Tamiang Layang – Tim terpadu yang terdiri dari unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, dan lembaga terkait melakukan inspeksi mendadak (sidak) di SPBU 64.737.02 Longkang, Selasa (25/11/2025).
Sidak menyusul kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi beberapa hari terakhir di wilayah Kabupaten Barito Timur.
Sidak ini diikuti oleh Kabag Ekonomi Setda Bartim, Dinas Perdagangan, Satintelkam Polres Bartim, Satpol PP, Kejaksaan, Dishub, BIN Daerah, anggota Satintelkam dan Polsek Dusun Timur.
Berdasarkan pengecekan lapangan, hari ini distribusi Pertalite dan Pertamax tetap dilakukan kepada masyarakat. Namun terlihat antrean kendaraan cukup panjang, terutama pada pengisian Pertamax. Tim juga masih menemukan keberadaan pelangsir menggunakan sepeda motor modifikasi dan mobil pribadi, meski jumlahnya sudah berkurang dibanding pekan sebelumnya.
Stok BBM pagi ini tercatat sebagai berikut, Pertalite: 9.600 liter. Pertamax: 8.000 liter, Biosolar: 8.000 liter, Dexlite: 2.337 liter
Sementara itu, hasil pemantauan harga di pengecer di Tamiang Layang menunjukkan penurunan.
Harga eceran Pertalite kini berada di kisaran Rp17.000/liter, sebelumnya mencapai Rp20.000, sedangkan Pertamax turun menjadi Rp22.000/liter dari harga sebelumnya mencapai Rp25.000/liter.
Pengelola SPBU Akui Pembatasan dan Gangguan Distribusi
Manager Operasional SPBU Longkang, Riky, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerapkan pembatasan pembelian untuk mengurangi aktivitas pelangsir.
“Saat ini roda empat hanya boleh mengisi maksimal Rp400 ribu dan roda dua maksimal Rp70 ribu atau sekitar 5 liter,” ujarnya.
Menurutnya, suplai Pertalite masih normal dengan pengiriman 8.000 liter per hari, namun pasokan Pertamax masih belum stabil.
Plt Kabag Ekonomi Setda Bartim, Stephanus Sepriadarma, membenarkan hasil sidak dan menyebutkan bahwa Pemda akan mengambil langkah lanjutan untuk memastikan distribusi BBM lebih tertib.
“Dalam waktu dekat akan diusulkan surat edaran Bupati yang mengatur mekanisme pembelian BBM di SPBU serta pembatasan penjualan BBM eceran selama masa krisis. Jika disepakati, pengawasan akan melibatkan Satpol PP, Dishub, dan aparat kepolisian,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kabid Perdagangan Diskop UKM, Wachid Sarbani. Ia menerangkan bahwa kelangkaan Pertamax terjadi karena suplai dari depot Banjarmasin terganggu akibat cuaca laut buruk sehingga tanker BBM terlambat sandar.
“Kondisi ini membuat asumsi masyarakat seolah-olah SPBU sengaja menahan distribusi. Padahal, SPBU juga membayar ke Pertamina dan menunggu jadwal distribusi,” jelas Wachid.
Untuk memperketat pengawasan, SPBU Longkang juga mulai memberlakukan barcode pembelian yang terhubung dengan sistem plat nomor kendaraan agar tidak terjadi pembelian berulang di hari yang sama.
Dari hasil pemantauan lapangan, diperoleh poin-poin sebagai berikut:
• Suplai Pertalite masih normal.
• Suplai Pertamax masih terkendala dan di luar kendali SPBU.
• Antrian pembeli masih didominasi oleh pelangsir.
Pemkab Barito Timur merencanakan penyusunan Surat Edaran Bupati untuk mengatur pembelian BBM dan pedagang eceran. Selain itu, .engatur masa berlaku edaran hingga suplai BBM kembali normal dan sebagai bentuk antisipasi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Sidak ini diharapkan menjadi langkah awal penataan distribusi BBM agar lebih tepat sasaran, mengurangi aktivitas pelangsiran, dan memastikan stok BBM mencukupi kebutuhan masyarakat Barito Timur. (LG/AK)





































