Desa Pulau Patai di Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, dalam beberapa tahun terakhir menanjakkan namanya sebagai destinasi desa wisata yang unik.
Dengan atraksi utama Wisata Pasuha (Patai Suku Hawa) susur sungai menggunakan jukung (perahu kayu tradisional), hamparan pasir putih, hingga Festival Nariuk, Pulau Patai kini menjadi contoh pengembangan pariwisata berbasis alam dan budaya di Kalteng.
Berbagai program pembinaan dan listing di portal desa wisata nasional memberi dukungan formal bagi perkembangan destinasi ini.
Artikel berikut merangkum profil wisata, atraksi unggulan, data kunjungan, nilai budaya, potensi ekonomi, tantangan pengelolaan, dan rencana pengembangan yang bisa dijadikan acuan aksi publik dan swasta.
Wisata Pasuha termasuk dalam katalog Desa Wisata Patai Suku Hawa yang terdaftar pada portal desa wisata Kemenparekraf (Jadesta). Kawasan wisata dikembangkan sejak sekitar 2019 dengan mengoptimalkan potensi sungai, garis pantai (pasir putih), serta kekayaan budaya lokal Dayak Maanyan. Luas area atraksi diperkirakan sekitar 20 hektar dari keseluruhan wilayah desa (182,86 km²). Informasi profil dan fasilitas dasar juga tersedia di listing resmi Jadesta.
Aktivitas paling ikonik adalah susur sungai menggunakan jukung tradisional. Wisatawan naik jukung menyusuri sungai Patai, menyaksikan lanskap rawa dan hutan nipah yang masih relatif terjaga. Operator lokal (pemandu jukung) biasanya menjelaskan ekosistem setempat dan memberi kesempatan pengunjung untuk memancing tradisional atau belajar teknik setempat. Jadesta juga mencantumkan produk wisata susur sungai sebagai paket untuk pengunjung.
Sepanjang rute, ada peluang bertemu satwa khas Kalimantan seperti orangutan, bekantan, dan beragam burung dari enggang, rangkong, dan tiung, selain fauna air tawar. Keberadaan satwa ini menjadikan Pasuha berperan ganda yaitu wisata dan edukasi atau konservasi. Namun, perjumpaan dengan satwa liar harus dikelola hati-hati untuk menghindari gangguan habitat; hal ini penting sebagai dasar pengembangan ekowisata berkelanjutan.
Festival Nariuk: Tradisi, Identitas Lokal, dan Daya Tarik Wisatawan
Festival Nariuk adalah tradisi lokal yang merepresentasikan kearifan Dayak Maanyan, menangkap ikan secara gotong-royong menggunakan tombak khas (tariuk). Festival ini digelar saat musim kemarau dan menjadi momen kultural yang melibatkan ratusan peserta, baik warga Pulau Patai maupun tamu dari luar desa. Pemerintah kabupaten kerap mendorong agenda ini sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya dan promosi pariwisata lokal. Laporan Diskominfo Barito Timur dan liputan lokal mencatat gelaran Festival Nariuk sebagai atraksi berkala yang menarik perhatian publik.
Festival Nariuk bukan sekadar tontonan dengan menghubungkan generasi muda ke tradisi nenek moyang, memperkuat identitas dan membuka peluang ekonomi musiman seperti penjualan makanan, suvenir, jasa foto, dan lainnya.
Pasir Putih, Spot Foto, dan Kerbau Rawa: Ragam Aktivitas di Pasuha
Di samping susur sungai dan festival, Pasir Putih Pulau Patai menjadi lokasi favorit untuk spot foto, termasuk sesi prewedding, perkemahan, dan pemancingan. Jadesta menampilkan paket wisata “Holiday Edventure” untuk Pasir Putih sebagai salah satu produk yang bisa dipesan pengunjung. Data lapangan menunjukkan bahwa objek ini sangat diminati pada akhir pekan.
Uniknya, Pulau Patai juga dikenal dengan kerbau rawa, yang dipelihara warga setempat sebagai mata pencaharian dan kini menjadi daya tarik tersendiri. Kerbau rawa mencerminkan kearifan lokal beradaptasi pada lanskap rawa-rawa, sekaligus menjadi elemen edukasi bagi wisatawan tentang pola hidup setempat. Sumber lokal dan portal desa wisata mencatat kerbau rawa sebagai atraksi yang terdaftar.
Data Kunjungan & Dampak Ekonomi
Menurut listing atraksi Pasir Putih di Jadesta, kunjungan mengalami lonjakan akhir pekan, pada periode tertentu tercatat sekitar 11.700 pengunjung dalam dua bulan (Januari–Februari), rata-rata 200 orang per hari selama hari sibuk. Angka ini menunjukkan potensi ekonomi nyata bagi desa berupa warung, homestay, penyewaan jukung, pemandu lokal. Namun data ini perlu diverifikasi berkala oleh Dinas Pariwisata atau BPS daerah untuk perencanaan jangka panjang.
Walaupun potensial, Pasuha menghadapi hambatan klasik desa wisata, akses jalan yang belum optimal, keterbatasan fasilitas penunjang kapasitas besar, dan kebutuhan PDAM/air bersih untuk musim kunjungan puncak. Peningkatan infrastruktur perlu selaras dengan kebijakan konservasi agar tidak mengorbankan habitat alami.
Jika ingin meniru pola konservasi seperti Tanjung Puting, pengembangan harus mencakup zonasi, pengaturan kunjungan, pelatihan pemandu konservasi, serta aturan interaksi dengan satwa. Rekomendasi praktis meliputi, pembatasan jarak pengamatan, larangan pemberian makanan pada satwa, dan program monitoring populasi. Beberapa inisiatif lokal sudah mengajukan rencana pengembangan berbasis konservasi ke pemerintah kabupaten.
Pasuha sebagai Model Desa Wisata Berbasis Alam & Budaya
Wisata Pasuha Pulau Patai bukan sekadar lokasi rekreasi: ia adalah contoh bagaimana alam, budaya, dan ekonomi lokal dapat dipadukan menjadi model desa wisata yang potensial. Dengan pengelolaan bijak, dukungan pemerintah daerah, dan partisipasi komunitas, Pasuha berpeluang menjadi ikon pariwisata Barito Timur sekaligus rumah bagi konservasi dan kesejahteraan masyarakat. (*)

Sumber : Kemenparekraf, Jadesta, dan Diskominfosantik Bartim









































