PALANGKA RAYA – Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh menyoroti arah sistem pendidikan di Kalimantan Tengah yang dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan masyarakat daerah.
Menurutnya, pendidikan saat ini masih terlalu berorientasi pada capaian akademik dan persaingan masuk ke jenjang pendidikan favorit, sementara pembentukan karakter serta pemahaman budaya lokal belum mendapat perhatian maksimal.
Faridawaty mengatakan, tantangan pendidikan di Kalteng bukan hanya soal akses dan infrastruktur, tetapi juga pola pembelajaran yang masih didominasi teori umum dan kurang menyesuaikan dengan kondisi daerah.
Ia menilai karakteristik Kalimantan Tengah yang memiliki wilayah luas serta keberagaman budaya seharusnya menjadi bagian penting dalam penyusunan sistem pendidikan.
“Pendidikan tidak cukup hanya mengejar capaian akademik. Perlu pemahaman terhadap jati diri dan budaya lokal, agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah perubahan,” ujarnya.
Menurut Faridawaty, perkembangan teknologi dan derasnya arus digitalisasi menjadi tantangan besar bagi generasi muda saat ini. Karena itu, dunia pendidikan dituntut tidak hanya mencetak siswa berprestasi secara akademik, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan kepedulian sosial.
Ia menegaskan, pendidikan harus mampu menyeimbangkan kemajuan modern dengan nilai budaya lokal agar peserta didik dapat berkembang mengikuti perubahan global tanpa melupakan identitas daerahnya.
“Kalau pendidikan ingin maju, harus mampu menjawab kebutuhan lokal sekaligus tantangan global, maka kita tidak akan tertinggal,” tegasnya.
Selain itu, Faridawaty mendorong agar materi pembelajaran di sekolah lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, pembelajaran yang dekat dengan realitas sosial akan membuat siswa lebih mudah memahami dan menerapkan ilmu yang diperoleh.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pihak dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kalimantan Tengah, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, tenaga pendidik, keluarga hingga masyarakat.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci dalam mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, terutama di wilayah pelosok.
Faridawaty berharap ke depan sistem pendidikan di Kalteng tidak hanya melahirkan generasi muda yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, berdaya saing, serta memahami budaya dan identitas daerahnya sendiri. (*)
Editor: Logman Susilo









































