SAMPIT – Konflik yang melibatkan Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Bagendang Raya di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), hingga kini belum menemukan titik terang. Pemerintah daerah pun memilih menetapkan status quo sambil menunggu kelengkapan data pendukung.
Langkah tersebut mendapat dukungan dari Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Sutik. Ia menilai keputusan Pemkab Kotim sudah tepat guna mencegah konflik yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Kami mendukung langkah Pemkab Kotim yang tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Penyelesaian konflik seperti ini harus berbasis data yang lengkap dan valid agar adil bagi semua pihak,” ujar Sutik, Kamis (30/4/2026).
Permasalahan ini mencuat lantaran belum adanya keputusan final dari rapat Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial (PKS). Hal itu disebabkan data yang dibutuhkan dalam proses penyelesaian masih belum lengkap, terutama terkait legalitas lahan dan kejelasan peta wilayah.
Untuk menghindari munculnya persoalan baru, pemerintah daerah memilih menetapkan status quo sembari melengkapi seluruh dokumen pendukung.
Menurut Sutik, konflik tersebut tidak hanya menyangkut aspek legalitas, tetapi juga berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat yang menggantungkan hidup pada lahan tersebut.
“Yang terpenting saat ini adalah menjaga kondusivitas di masyarakat. Semua pihak harus menahan diri dan menghormati proses yang sedang berjalan,” tegasnya.
Ia juga mendorong seluruh pihak, baik kelompok tani maupun pihak terkait lainnya, agar bersikap kooperatif dalam melengkapi data yang dibutuhkan tim penyelesaian konflik.
“Kerja sama semua pihak sangat diperlukan agar proses penyelesaian bisa segera dituntaskan secara transparan dan adil,” tambahnya.
Sutik berharap konflik Gapoktanhut Bagendang Raya dapat segera menemukan solusi melalui mekanisme yang jelas, sehingga tidak berlarut-larut dan berdampak pada stabilitas sosial di wilayah tersebut.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga keamanan serta tidak mudah terprovokasi selama proses penyelesaian berlangsung. (*)
Editor: Logman Susilo









































