Hamparan hutan tropis yang luas, aliran Sungai Barito yang membelah wilayah, serta kekayaan budaya masyarakat Dayak menjadi identitas yang tak terpisahkan dari Kabupaten Murung Raya. Di balik pesatnya pembangunan yang terlihat saat ini, daerah paling utara di Kalimantan Tengah tersebut menyimpan perjalanan sejarah yang panjang dan penuh perjuangan.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, wilayah yang kini bernama Kabupaten Murung Raya telah menjadi kawasan penting di pedalaman Kalimantan. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, daerah ini dikenal sebagai Distrik Boven Barito (Barito Hulu) yang berpusat di Puruk Cahu. Letaknya yang strategis di jalur Sungai Barito menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat administrasi sekaligus benteng pertahanan pemerintah kolonial.
Memasuki masa kemerdekaan, status pemerintahan berubah menjadi Kawedanan Barito Hulu. Sejumlah tokoh seperti Mustafa Idham, Dowi Sang, Louis Conrad, Siahan Wahab, hingga Tuju Sila silih berganti memimpin wilayah tersebut.
Perjalanan Murung Raya terus mengalami perubahan. Pada 1964 statusnya ditingkatkan menjadi Daerah Persiapan Barito Hulu, lalu pada 1965 ditetapkan sebagai Kabupaten Administratif Murung Raya. Namun, beberapa tahun kemudian status itu kembali berubah menjadi Wilayah Kerja Pembantu Bupati Barito Utara.
Meski berbagai perubahan administrasi terus terjadi, satu hal yang tidak pernah berubah adalah keinginan masyarakat agar Murung Raya berdiri sebagai daerah otonom sendiri. Luasnya wilayah, sulitnya akses transportasi, hingga jauhnya rentang pelayanan pemerintahan menjadi alasan utama munculnya aspirasi tersebut.
Semangat itulah yang kemudian melahirkan Komite Pembentukan Kabupaten Murung Raya yang dipimpin H. Perdina. Bersama para tokoh masyarakat, komite ini memperjuangkan pemekaran daerah hingga ke tingkat pusat. Berbagai dokumen, kajian, dan dukungan masyarakat dipersiapkan sebagai syarat pembentukan kabupaten baru.
Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil ketika pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2002 tentang pembentukan delapan kabupaten baru di Provinsi Kalimantan Tengah. Tepat pada 2 Juli 2002, Murung Raya resmi berdiri sebagai kabupaten definitif bersama Kabupaten Barito Timur, Gunung Mas, Katingan, Lamandau, Pulang Pisau, Seruyan, dan Sukamara.
Lahirnya kabupaten baru menjadi awal perjalanan membangun daerah dari nol. Pemerintah menunjuk Dr. Surung M. Saban sebagai Penjabat Bupati pertama untuk membentuk perangkat pemerintahan, menata birokrasi, hingga mempersiapkan pemilihan kepala daerah definitif.
Tonggak sejarah berikutnya tercatat pada 21 Juli 2003 ketika Dr. Willy M. Yoseph dan Dr. H. Abdul Talib resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati pertama Murung Raya. Sejak saat itu pembangunan mulai bergerak lebih cepat. Jalan penghubung antarkecamatan dibangun, pelayanan kesehatan dan pendidikan diperluas, sementara roda pemerintahan terus diperkuat agar mampu menjangkau masyarakat hingga pelosok.
Estafet kepemimpinan kemudian berlanjut kepada Dr. Willy M. Yoseph–Dr. Andes H. Noryakin, disusul Dr. Perdie M. Yoseph–Darmaji, kemudian Dr. Perdie M. Yoseph–H. Rejikinoor. Masing-masing pemerintahan meninggalkan jejak pembangunan sesuai tantangan zamannya.
Memasuki 2023, kepemimpinan sementara dijalankan Penjabat Bupati Dr. Hermon sembari menyiapkan pelaksanaan Pilkada Serentak 2024.
Hasil pesta demokrasi tersebut mengantarkan Herius, S.E. dan Rahmanto Muhidin, S.H., M.H. sebagai Bupati dan Wakil Bupati Murung Raya periode 2025–2030. Keduanya mengusung visi Murung Raya Hebat yang merupakan akronim dari Humanis, Ekonomi Maju, Bermartabat, Amanah, dan Tangguh.
Kini, lebih dari dua dekade sejak resmi berdiri sebagai daerah otonom, Murung Raya terus berbenah. Potensi pertambangan, kehutanan, perkebunan, hingga pariwisata alam menjadi modal besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Di sisi lain, pemerintah juga terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di balik seluruh pencapaian itu, sejarah panjang perjuangan pemekaran tetap menjadi pengingat bahwa Murung Raya lahir bukan karena kebetulan, melainkan buah dari kerja keras dan tekad masyarakat yang menginginkan pelayanan pemerintahan lebih dekat, pembangunan lebih merata, serta masa depan yang lebih baik.
Memperingati Hari Jadi Kabupaten Murung Raya ke-24 menjadi momentum untuk mengenang jasa para tokoh pendiri sekaligus memperkuat semangat bersama dalam melanjutkan pembangunan. Dengan kolaborasi pemerintah dan masyarakat, cita-cita mewujudkan Murung Raya Hebat menuju Murung Raya Emas diharapkan dapat terus diwujudkan bagi generasi yang akan datang. (*)
Sumber: Berbagai Sumber








































