Usianya sudah menginjak 47 tahun, tetapi semangat untuk menekuni profesi wartawan masih menyala. Pria yang dikarunia dua putri ini memiliki kisah lain sebelum memutuskan menjadi pemburu berita.
Sebelum menjadi wartawan, Herman menghabiskan sembilan tahun bekerja di Askrindo Banjarmasin. Ia kembali memulai karier di Kapuas sebagai pekerja di salah satu koperasi, anak perusahaan PT. PLN. Kemudian, berpindah ke Sampit, Kotawaringin Timur mendampingi Istri sebagai guru. Baginya, kehidupan keluarga jauh di atas segalanya.
Tahun 2013 menjadi tahun paling kelam dalam hidupnya. Istrinya meninggal dunia. Duka tersebut memaksa Herman berpindah tinggal. Tujuannya terjauh paling barat Kalimantan Tengah, Sukamara.
Trauma dan memulai kehidupan baru bersama kedua buah hati dijalani. Di sana, barulah ia memiliki ketertarikan dengan jurnalistik.
Awal 2014 menjadi titik awal Herman bergelut dalam dunia kuli tinta. Ia bergabung dengan Suara Kalteng, media mingguan yang saat ini terbit hanya dua kali dalam sebulan.
Ruang itu memberinya kebebasan berekspresi sampai pada titik liputan yang paling membekas dan mendapat pengalaman berharga. Karyanya bisa menggerakkan hati kepala daerah.
Kala itu, Herman berkunjung ke Desa Melatup, Kecamatan Permata Kecubung. Desa terpencil yang hampir tidak tersentuh pembangunan. Jalanan lumpur, faskes minim, sarana pendidikan terbatas, serta tidak ada Listrik.
Karyanya menggugah pengambil kebijakan, Desa Melatup menjadi fokus perhatian. Pemerintah daerah akhirnya merespon dan memberikan perhatian khusus.
Desa Melatup mulai bangkit, menuju wilayah tersebut tidak lagi sulit. Kurang dari setahun jalanan diperbaiki dan waktu tempuh ke pemukiman warga lebih ringkas. Tidak lagi bergelut dengan lumpur.
Anak – anak di Desa Malatup memiliki asa, harapan masa depan. Meskipun hanya dibangun satu sekolah namun, Lembaga Pendidikan itu bisa menampung jenjang dari sekolah dasar, SMP, hingga SMA yang dikenal dengan Sekolah Satu Atap (SATAP).
Tidak ada anak putus sekolah, paket lengkap sembilan tahun bisa dienyam. Harapan bagi anak desa terpencil untuk memiliki bekal Pendidikan yang cukup.
Tak hanya itu, bidang kesehatan ikut dibangun. Faskes baru didirikan dan bagi warga hal itu sangat berarti. Mereka bisa berobat dan mendapat pelayanan kesehatan tanpa harus ke ibu kota kecamatan maupun kabupaten, kecuali untuk masalah darurat.
Termasuk untuk jaringan listrik, tulisan Herman berdampak besar. Pemetaan pelayanan pendidikan, evaluasi akses kesehatan, dan percepatan intervensi infrastruktur dasar dilakukan pemerintah daerah.
Bagi Herman, itu adalah momen ketika ia benar-benar merasakan kekuatan sebuah tulisan dapat menggerakkan perubahan.
“Yang paling saya ingat ya tulisan itu, Desa Melatup. Miris melihat secara langsung tetapi sekarang sudah baik, tulisan itu yang masih saya ingat sampai sekarang,” ulas pria berkulit putih itu ketika dibincangi, Jumat (12/12/2025) malam.
Meski banyak jurnalis mengejar spotlight kota besar, Herman tetap menjadikan daerah terpencil pilihan untuk dekat dengan Masyarakat.
Ia terus bersemangat meliput kegiatan pemerintah, pembangunan, masyarakat, dan cerita-cerita kecil yang sering dianggap remeh, yang sejatinya adalah denyut kehidupan daerah.
Teranyar, orang yang memiliki sepak terjang cukup dijurnalistik ini juga dipercayakan oleh rekan – rekan seprofesi untuk memimpin PWI di Kabupaten Sukamara Periode 2025 – 2028. (*)









































