KASONGAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Katingan terus menunjukkan perkembangan signifikan. Berdasarkan data Sistem Monitoring Operasional (SMO), ribuan penerima manfaat telah terlayani melalui sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Katingan.
Evaluasi program ini menjadi bahan laporan kepada pemerintah daerah sebagai langkah penguatan pelaksanaan MBG di daerah. Secara keseluruhan, jumlah penerima manfaat dari beberapa SPPG tercatat lebih dari 11 ribu orang yang terdiri dari siswa berbagai jenjang pendidikan, balita, serta ibu hamil dan ibu menyusui.
Salah satu unit dengan cakupan besar berada di wilayah Kasongan, Kecamatan Katingan Hilir. SPPG di wilayah ini melayani sekitar 2.659 penerima manfaat, mulai dari balita di Posyandu Teratai dan Bakung, ibu hamil dan ibu menyusui, hingga siswa dari berbagai sekolah seperti TK Fantasi, RA Perwanida, SDN 4 Kasongan Lama, SDN 5 Kasongan Lama, hingga SMAN 2 Kasongan.
Operasional dapur MBG di lokasi tersebut didukung 47 relawan yang terbagi dalam beberapa tim, mulai dari persiapan bahan, juru masak, pemorsian makanan, pengemudi distribusi, hingga tim kebersihan. Selain itu, terdapat tiga staf utama, yakni Kepala SPPG, pengawas gizi, dan pengawas keuangan.
Program MBG juga berjalan di wilayah Katingan Kuala, termasuk Pegatan Hilir. Di wilayah ini jumlah penerima manfaat mencapai lebih dari dua ribu orang dari berbagai sekolah seperti MIN 2 Katingan, SMP Negeri 1 Katingan Kuala, dan SMA 1 Katingan Kuala. Selain siswa, penerima manfaat juga berasal dari kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang terdaftar di posyandu setempat.
Sementara itu, di wilayah Tumbang Samba, SPPG melayani sekitar 3.014 penerima manfaat. Cakupan layanan meliputi siswa dari tingkat TK hingga SMA serta balita dan ibu hamil yang terdaftar di beberapa posyandu.
Pelaksanaan program MBG tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga turut menggerakkan ekonomi lokal. Banyak pelaku UMKM dilibatkan sebagai pemasok bahan makanan, mulai dari sayuran, telur, ikan, buah, hingga kebutuhan dapur lainnya.
Setiap SPPG rata-rata didukung puluhan relawan yang bertugas mulai dari proses persiapan bahan, memasak, pemorsian makanan, distribusi ke sekolah, hingga menjaga kebersihan dapur.
Salah satu relawan dari SPPG Kasongan Lama 2, Tiara Agustina (32), yang bertugas di bagian produksi, mengungkapkan bahwa program MBG juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang ingin bekerja, khususnya ibu rumah tangga.
“MBG ini sangat bermanfaat bagi ibu-ibu yang mencari pekerjaan. Di sini kami bisa bekerja walaupun tidak memiliki ijazah tertentu. Harapan kami ke depan, program ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat juga menilai program Makan Bergizi Gratis membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar SPPG karena mampu menghidupkan UMKM, koperasi, hingga BUMDes. Menu makanan yang disusun oleh ahli gizi menggunakan konsep gizi seimbang “Isi Piringku”, bukan lagi pola lama “4 Sehat 5 Sempurna”, sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan gizi peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Misalnya, kebutuhan protein dari susu dapat digantikan dengan sumber lain seperti ayam atau telur dengan nilai gizi yang setara.
Meski demikian, pelaksanaan MBG di Kabupaten Katingan dinilai masih belum merata. Hal ini disebabkan jumlah bangunan SPPG yang masih terbatas sehingga belum menjangkau seluruh kecamatan di wilayah tersebut.
Sebab itu, masyarakat yang belum mendapatkan manfaat program berharap ke depan MBG dapat diperluas agar lebih banyak peserta didik, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang bisa merasakan manfaatnya.
Selain itu, program MBG juga dinilai berkontribusi pada pemberdayaan perempuan. Lebih dari 50 persen tenaga kerja yang terlibat dalam operasional SPPG merupakan perempuan, sehingga membuka peluang kerja baru di daerah.
Melalui evaluasi yang dilakukan, pelaksana program berharap dukungan pemerintah daerah terus diperkuat agar MBG dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Evaluasi berkala juga dilakukan untuk memastikan kualitas makanan, kecukupan gizi, serta kelancaran distribusi tetap terjaga.
Program MBG dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. (*)
Editor: Redaksi




































