PALANGKA RAYA – Kasus bullying dan kekerasan terhadap siswa di sejumlah SMA di Palangka Raya menjadi perhatian DPRD Kalimantan Tengah. Persoalan tersebut dinilai tidak cukup hanya diatasi dengan memperketat pengawasan di lingkungan sekolah.
Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Sugiyarto, menilai akar persoalan bullying juga berkaitan dengan pendidikan moral dan karakter yang perlu kembali diperkuat sejak dini.
“Ini sesungguhnya lebih kepada pendidikan moral yang diterapkan oleh pemerintah yang menipis. Padahal pendidikan moral ini sangat penting. Dulu di tahun 70-an ada yang namanya pendidikan Budi Pekerti,” kata Sugiyarto.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial turut membawa pengaruh terhadap pola perilaku anak. Di tengah derasnya informasi yang mudah diakses, siswa perlu mendapatkan pembekalan yang cukup mengenai sopan santun, tata krama, menghormati orang lain, serta bagaimana menyikapi perbedaan.
Sugiyarto menegaskan, bullying tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan antara pelaku dan korban. Lingkungan pendidikan memiliki peran besar dalam membentuk karakter siswa agar terbiasa menghargai dan menghormati orang lain.
“Kalau kita bisa menghargai dan menghormati orang lain, tentu akan berbeda dan kemungkinan kasus ini tidak akan terjadi,” ujarnya.
Karena itu, pendidikan karakter menurutnya tidak cukup hanya menjadi materi pembelajaran di ruang kelas. Nilai-nilai moral harus dibangun melalui kebiasaan dan diterapkan dalam kehidupan siswa sehari-hari, baik ketika berada di sekolah maupun di luar sekolah.
“Hal ini harus dibiasakan, baik itu di ruang kelas ataupun di luar ruang kelas,” katanya.
Ia pun meminta pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama DPR RI mengevaluasi kembali kurikulum pendidikan. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah penguatan pendidikan moral dan Budi Pekerti sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
“Bagaimana kurikulum yang ada ini bisa diperbaiki, sehingga pendidikan moral terhadap anak-anak itu memberikan pembekalan kejiwaan kepada siswa kita,” tegasnya.
Menurut Sugiyarto, pembentukan karakter menjadi semakin penting di tengah perkembangan zaman dan penggunaan media sosial yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak.
Sekolah, keluarga dan pemerintah, kata dia, perlu memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk lingkungan yang mendorong siswa untuk menghargai sesama dan menolak segala bentuk kekerasan maupun perundungan.
Ia berharap penguatan pendidikan moral dapat menjadi salah satu langkah konkret untuk mencegah kasus bullying dan kekerasan di lingkungan sekolah.
Sebab, pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan membuat siswa menjadi pintar secara akademis. Lebih dari itu, pendidikan juga harus mampu membentuk pribadi yang memiliki karakter, mampu menghargai dan menghormati orang lain, serta memperlakukan sesama dengan baik. (*)
Editor: Logman Susilo








































