TAMIANG LAYANG – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Barito Timur terus menjadi perhatian. Dalam periode 20 Agustus hingga 14 September 2026, tercatat sebanyak 1.425 kasus yang dihimpun dari 11 puskesmas.
Angka tersebut masih bergerak fluktuatif. Bahkan, dalam catatan harian Dinas Kesehatan Barito Timur, jumlah kasus tertinggi terjadi pada 31 Agustus 2026 dengan mencapai 118 kasus dalam sehari.
Hingga 14 September 2026, masih tercatat 65 kasus ISPA dalam sehari.
Dari 11 puskesmas yang melaporkan kasus, Puskesmas Tamiang Layang mencatat angka tertinggi dengan 298 kasus. Kemudian Bambulung 180 kasus, Edison Jaar 139 kasus, Telang Siong 136 kasus, Hayaping 113 kasus, Bentot 109 kasus, Dayu 106 kasus, Tamba 102 kasus, Pasar Panas 95 kasus, Ampah 92 kasus dan Unsum 55 kasus.
Melihat kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Barito Timur meminta masyarakat tidak menganggap remeh gangguan saluran pernapasan. Terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi dan balita.
Kepala Dinas Kesehatan Barito Timur, dr. Jimmi W.S Hutagalung melalui Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Mayerni, mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah.
“Agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ibu hamil, bayi dan balita. Apabila perlu keluar, diharapkan menggunakan masker,” ujar Mayerni kepada wartawan ini melalui sambungan WhatsApp, Selasa (15/9/2026).
Penggunaan masker, kata dia, perlu dibarengi dengan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sebagai bagian dari upaya mencegah gangguan saluran pernapasan.
Yang tidak kalah penting, warga diminta segera memeriksakan diri apabila mulai merasakan gejala ISPA.
“Bila ada gejala ISPA, segera berobat. Bila terjadi sesak napas atau kekurangan oksigen, segera ke fasilitas kesehatan, karena di sana tersedia ruang oksigen,” katanya.
Dinas Kesehatan Barito Timur sendiri terus memantau perkembangan kasus melalui laporan dari seluruh puskesmas. Data tersebut direkap dan dilaporkan setiap hari untuk melihat perkembangan kasus di masing-masing wilayah.
“Dinkes selalu setiap hari melaporkan data ISPA yang direkap dari 11 puskesmas,” jelas Mayerni.
Pemantauan harian ini dilakukan untuk mengantisipasi apabila terjadi peningkatan kasus sekaligus memastikan kondisi di lapangan dapat diketahui dengan cepat.
Dinkes pun kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu kondisi memburuk. Jika mengalami gejala ISPA, terlebih disertai sesak napas atau tanda kekurangan oksigen, warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
Sementara bagi ibu hamil, bayi dan balita, perhatian dan perlindungan perlu diberikan lebih karena kelompok tersebut termasuk yang rentan terhadap gangguan saluran pernapasan. (*)
Editor: Logman Susilo







































