TAMIANG LAYANG – Teka-teki di balik mundurnya Kepala Desa (Kades) Harara, Triyono, akhirnya mulai terkuak. Dalam sebuah pengakuan, sang Kades membeberkan kondisi mengejutkan yang dialaminya hingga sempat menghilang dan meninggalkan tanggung jawabnya di desa.
Bukan karena persoalan administrasi atau tekanan politik semata, Triyono mengaku saat itu dirinya berada dalam kondisi mental yang benar-benar kosong atau blank.
Triyono menceritakan bahwa sebelum memutuskan pergi, ia mengalami tekanan batin yang luar biasa. Ketidakharmonisan di lingkungan rumah tangga yang berujung pada perselisihan terus-menerus membuatnya merasa tidak mampu berpikir jernih.
“Waktu itu saya benar-benar blank, pemikiran kosong. Anak saja saya sudah tidak mau tahu lagi. Daripada saya di rumah dan melakukan hal negatif karena emosi yang tidak stabil, saya memilih menghindar,” ungkap Triyono, ketika ditemui, Kamis (16/4/2026).
Kepergiannya saat itu dilakukan secara spontan. Tanpa pamit kepada keluarga maupun perangkat desa, ia langsung memacu sepeda motornya menuju daerah Buhut, hingga akhirnya sampai ke wilayah Gawing.
Selama masa pelariannya, Triyono mengaku hidup berpindah-pindah. Menariknya, meski dalam kondisi sulit dan tidak memiliki uang, ia sempat membantu warga memperbaiki mesin genset tanpa meminta bayaran sepeser pun.
”Saya cuma punya motor dengan tangki penuh, uang tidak ada. Saya kerja serabutan, bantu orang bongkar mesin, yang penting bisa makan,” tambahnya.
Kondisinya mulai membaik setelah ia bertemu dengan seseorang bernama Rano di daerah Teluk Batu. Melalui pendekatan kearifan lokal (pengobatan tradisional), Triyono merasa perlahan kesadarannya kembali. Ia merasakan ada beban fisik yang tak masuk akal seperti punggung yang terasa sangat panas yang perlahan hilang setelah diobati.
Setelah menjalani proses pengobatan tersebut, Triyono mengaku baru bisa kembali berpikir logis dan teringat akan nasib anak-anak serta tanggung jawabnya.
”Setelah dimandikan (diobati), saya merasa segar. Saya mulai bisa berpikir lagi, bagaimana nasib anak saya, bagaimana nasib semuanya,” tuturnya dengan nada menyesal.
Triyono yang ditemui, rencananya menghadap Bupati Bartim untuk silahturahmi sekaligus melaporkan kondisinya saat ini.
Ia juga mengaku telah bertemu dengan camat untuk melakukan klarifikasi.
“Ke camat kemarin (15/4/2026) dan memang disarankan kembali bekerja setelah mendengar klarifikasi, ya semoga bisa kembali normal,” ungkap Triyono.
Ia pun tidak menampik saat ini akan kembali aktif menjadi kepala desa. Saran dari camat untuk bisa kembali bekerja namun tidak berkantor di Desa Harara.
“Sambil menunggu pemulihan (berobat) disarankan tetap bekerja menggunakan ruang di kantor kecamatan atau yang lain, tetapi ini sambil koordinasi,” beber Triyono.
Namun, lanjutnya, keputusan itu sepenuhnya diserahkan kepada semua pemangku kepentingan di Desa. “Apakah disetujui? Karena untuk sekarang masih tidak bisa standby di Desa Harara belum sembuh (pemulihan),” timpal Triyono. (man)
Editor: Logman Susilo









































