Kebakaran hutan dan lahan yang membuat langit Barito Timur tertutup asap pekat ini jelas bukan bencana biasa yang bisa kita maklumi begitu saja. Daerah kita sudah resmi masuk kategori merah alias darurat kebakaran parah.
Saat melihat angka 480 lebih kejadian karhutla dan sekitar 1.400-an warga yang mulai terserang ISPA karena menghirup udara tidak sehat, ini bukan lagi sekadar soal cuaca kemarau. Ini krisis nyata yang makin mengancam kesehatan dan ruang hidup kita sendiri.
Padahal, kerja keras di lapangan sudah gila-gilaan. Ada sekitar 900 lebih personel gabungan TNI-Polri yang diturunkan, belasan mobil tangki, drone pemantau, sampai pembagian posko di berbagai wilayah dari Dusun Tengah sampai Paju Epat.
Tapi angka-angka itu justru memperlihatkan kenyataan yang pahit: apinya masih sulit dikendalikan dan Barito Timur benar-benar sedang menjerit. Masalahnya bukan cuma karena angin atau panas, tapi soal ketegasan hukum dan kemauan kita untuk menghentikan kebiasaan asal bakar lahan.
Apalagi kalau kita lihat di lapangan, keberadaan posko yang ada saat ini terasa masih sangat kurang dan belum sebanding dengan luasnya dampak krisis. Warga di banyak titik terpencil masih kesulitan mengakses bantuan medis dasar maupun masker yang layak, sementara relawan bertarung dengan keterbatasan fasilitas.
Mengagungkan ribuan personel tanpa menambah titik-titik posko penanganan dan kesehatan di wilayah krusial hanyalah bentuk ketidaksiapan yang pada akhirnya mengorbankan masyarakat.
Di situasi kritis seperti ini, anak-anak muda tidak boleh cuma duduk manis atau sekadar ngeluh di media sosial. Asap pekat di luar itu pengingat keras kalau kita harus ikut bergerak dan bersikap kritis.
Saat kondisi sudah merah, tidak ada lagi kata pemakluman. Pemuda harus berani bersuara untuk mengawal kebijakan dan penegakan hukum, sekaligus mendesak pemerintah untuk segera menambah keberadaan posko kesehatan serta pemadam di daerah-daerah yang belum terjangkau.
Kita harus desak pemerintah dan aparat untuk transparan serta tidak ragu menindak tegas siapa pun pembakar lahannya, mau itu oknum warga ataupun korporasi jangan sampai hukum tumpul pas kesehatan kita semua yang dikorbankan.
Selain bersuara, kepedulian juga harus kelihatan di lapangan lewat aksi nyata. Kita bisa turun tangan membantu membagikan masker N95 dan bantuan medis buat anak-anak dan lansia, membantu mengisi kekosongan logistik relawan di posko-posko yang minim bantuan, atau pelan-pelan ngobrol dan ngedukasi warga sekitar biar tidak ada lagi yang membuka lahan dengan cara dibakar.
Masa depan Barito Timur tidak akan membaik cuma gara-gara janji manis di atas kertas; saat daerah kita terkepung asap dan masuk status darurat, keberanian dan aksi nyata anak mudanyalah yang bisa jadi jalan keluar.
Opini: Lutfi Arif Jailani
Pemuda Barito Timur








































